Skripsi Ilmu Perikanan
ANALISIS FEMINISME MARXIS DALAM NOVEL CANTIK ITU LUKA KARYA EKA KURNIAWAN
ABSTRAKSI
Rachmawati, Nurul 2017 : Analisis Feminisme Marxis dalam Novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan.
Pembimbing : Dra. Wahyu Mulyani, M.Si., M.Pd dan Yunita Suryani M.Pd.
Kata Kunci : Feminisme Marxis, Novel Cantik Itu Luka.
Sastra merupakan hasil karya manusia yang berupa pengolahan bahasa yang indah berbentuk lisan atau tulisan. Dunia sastra adalah dunia dengan wawasan estetika, maka seseorang yang masuk di dalamnya, baik sebagai pengarang maupun pembaca akan memperoleh pengalaman estetika. Karya sastra merupakan media yang digunakan oleh pengarang dalam menyampaikan gagasan-gagasannya. Sebagai media, karya sastra menjadi jembatan yang menghubungkan pikiran-pikiran pengarang yang disampaikan kepada pembaca. Dalam hubungan antara pengarang dengan pembaca, karya sastra menduduki peran-peran yang berbeda. Feminisme marxis adalah memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Novel Cantik Itu Luka menceritakan tentang kecantikan yang menuai luka. Bercerita tentang seorang wanita yang bernama Dewi Ayu yang tinggal di sebuah perdesaan. Dewi Ayu ini merupakan wanita blasteran belanda sehingga ia mendapat julukan sebagai wanita yang paling cantik namun juga paling dibenci oleh warga desa tersebut.
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimanakah kekerasan domestik pada novel cantik itu luka karya eka kurniawan, (2) Bagaimanakah peran tradisional perempuan sebagai kaum yang lemah, dan (3) Bagaimanakah Citra perempuan dalam novel cantik itu luka karya eka kurniawan. Tujuan penelitian ini secara umum, yaitu untuk mendeskripsikan secara objektif tentang feminisme marxis dalam novel cantik itu luka karya eka kurniawan. Sedangkan tujuan khususnya yaitu untuk mendeskripsikan kekerasan domestik dalam novel cantik itu luka karya eka kurniawan, peran tradisional perempuan sebagai kaum yang lemah, dan citra perempuan dalam novel cantik itu luka karya eka kurniawan.
Metode penelitian yang digunakan penulis untuk mengumpulkan data adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah metode yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis Metode ini tidak semata-mata hanya menguraikan, tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. Metode deskriptif selain memberikan uraian fakta, juga memberikan penjelasan yang rinci. Hal tersebut akan memperjelas data yang dihasilkan, sehingga hasil penelitian lebih mudah dipahami.
Pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan feminisme sastra. Pendekatan feminisme dalam kajian sastra sering dikenal dengan nama kritik sastra feminis. Pendekatan feminisme adalah salah satu kajian sastra yang mendasarkan pada pandangan feminisme yang menginginkan adanya keadilan dalam menanda eksistensi perempuan, baik sebagai penulis maupun dalam karya sastra. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menyajikan deskripsi dalam pengungkapannya. Deskripsi dapat berupa memaparkan atau menggambarkan suatu hal.
Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan 35 data pada novel cantik itu luka yang mengandung feminisme marxis. Hasil analisis tersebut terdiri dari 13 kekerasan domestik: 9 kekerasan seksual/fisik dan 4 kekerasan nonfisik/psikologis. 14 peran tradisional perempuan: 4 peran sebagai ibu, 4 peran sebagai anak, 3 peran sebagai istri, 1 peran sebagai ibu rumah tangga dan 2 peran perempuan sebagai kaum yang lemah, 8 Citra perempuan: 4 citra diri dan 4 citra sosial.
Kesimpulan hasil penelitian ini adalah (1) Kekerasan domestik Dewi Ayu mengalami kekerasan nonfisik, Alamanda mengalami kekerasan seksual dan Cantik mengalami kekerasan nonfisik. (2) Peran tradisional Dewi Ayu dan Alamanda adalah perannya sebagai ibu, Adinda sebagai ibu dan istri, dan Maya Dewi adalah sebagai ibu, istri, serta ibu rumah tangga. Sedangkan Dewi Ayu sebagai perempuan yang lemah terlihat ketika dia terpaksa menjadi pelacur dan Alamanda terlihat sebagai perempuan yang lemah ketika dia terpaksa menikah dengan Sang Shodancho dan terpaksa memberikan cintanya kepada suaminya untuk menyelamatkan kekasihnya. (3) Citra perempuan: Citra diri Dewi Ayu sebagai seorang perempuan yang sangat cantik, keras kepala, keras hati, baik hati, berani dan kepemimpinan; Alamanda sebagai seorang perempuan yang sangat cantik, kasar dan tidak sopan santun serta baik hati; Adinda sebagai seorang perempuan yang cantik, baik hati dan sopan santun; Maya Dewi sebagai seorang yang cantik; Cantik sebagai seorang perempuan wajahnya buruk rupa, keras kepala, pandai dan cerdas. Citra sosial dewi ayu sebagai seorang pelacur yang terkenal dan sangat dipuja, Alamanda adalah anak seorang pelacur yang suka mempermainkan hati laki-laki, maya dewi adalah seorang yang pandai membuat kue dan disegani warga karena sikapnya yang tenang, sopan dan saleh. Cantik adalah seorang yang memiliki wajah buruk rupa seperti monster.
No other version available