Skripsi Ilmu Perikanan
KESANTUNAN BERBAHASA MASYARAKAT PONDOK PESANTREN SUNAN DRAJAT BANJARANYAR PACIRAN LAMONGAN
ABSTRAKSI
Zainal Abidin, 2015 : Kesantunan Berbahasa Masyarakat Pondok Pesantren Sunan Drajat Banjaranyar Paciran Lamongan.
Dosen Pembimbing : Dra.Wahyu Mulyani, M.Si
Kata Kunci : Kesantunan, Berbahasa, Masyarakat Pesantren.
Masyarakat pesantren merupakan komunitas yang menarik untuk diteliti. Pemakaian tuturan bermakna pragmatik imperatif tidak selalu sama antara masyarakat pesantren dengan masyarakat lainya, selain kental dengan budaya pesantren, jawa namun juga dari asal daerah mereka masing-masing pun berbeda, tidak jarang pula mereka ada yang berasal dari luar negeri seperti daerah asal Malaysia. Meskipun demikian mereka masih memakai norma-norma pesantren yang sama dan rukun tanpa membeda-bedakan tempat asal daerah.
Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah kesantunan imperatif antar santri putra Pondok Pesantren Sunan Drajat Banjaranyar Paciran Lamongan dimana masalah dibatasi pada bentuk kesantunan imperatif dan strategi kesantunan antar santri putra dilihat dari tingkat ilmu dan status kelembagaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesantunan imperatif antar santri putra Pondok Pesantren Sunan Drajat sehingga diharapkan memberikan manfaat baik secara paktis maupun teoritis.
Melalui pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode deskriptif ditemukan bahwa pesantren merupakan komunitas yang unik dimana penerapan norma-norma pesantren maupu budaya jawa masih terlihat kuat. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode observasi, wawancara, simak, cakap, dan dokumentasi.
Dari kajian teoritis diketahui bahwa tingkat ilmu dan status kelembagaan sangat mempengaruhi bentuk tuturan bermakna pragmatik imperatif santri. Dari berbagai makna pragmatik tersebut juga bisa diketahui makna dasar pragmatik imperatif yang digunakan santri dalam berkomunikasi. Pemakaian tuturan bermakna pragmatik imperatif hampir bisa dipastikan tidak ada dalam tuturan santri terhadap ustadz maupun pengurus. Hal ini dipengaruhi oleh konteks sosial dan konteks situsi serta perpaduan budaya pesantren dan Jawa, dimana seorang santri jika berkomunikasi dengan orang yang mempuyai status sosial lebih tinggi, mereka menerapkan sikap wedi (takut), isin (malu), dan sungkan (segan). Selain itu dari penelitian ini ditemukan bahwa tuturan yang lebih panjang tidak selalu dinilai lebih santun, justru dalam komunikasi santri terhadap ustadz dan pengurus, tuturan yang pendek, singkat, dan tidak banyak bicara dinilai lebih santun.
No other version available