Skripsi Ilmu Perikanan
EKSISTENSI RELASIONAL DALAM NOVEL ?DUNIA SOPHIE? KARYA JOSTEIN GAARDER: SUATU KAJIAN FILSAFAT ONTOLOGI
ABSTRAK
Nining Nur Hidayanti, 2015 : Eksistensi Relasional dalam Novel ?Dunia Sophie? Karya Jostein Gaarder: Suatu Kajian Filsafat Ontologi.
Dosen Pembimbing : Dr. Moh. Mu?minin, M.Pd
Kata Kunci : eksistensi relasional, prinsip kausalitas, prinsip keniscahyaan, prinsip keselarasan ?Dunia Sophie?
Eksistensi relasional merupakan prinsip kausalitas yang realitasnya mengekspresikan keterkaitan dan hubungan. Eksistensi membutuhkan sebab untuk eksistensinya. Kausalitas adalah hukum umum eksistensi sebagaimana dikukuhkan oleh eksperimen-eksperimen ilmiah.
Tujuan penelitian ini memperoleh deskripsi secara umum tentang eksistensi relasional dalam novel ?Dunia Sophie? dan secara khusus tentang (1) Prinsip kausalitas (sebab), (2) prinsip keniscayaan (akibat), dan (3) prinsip keselarasan (hubungan antara sebab dan akibat) dalam novel ?Dunia Sophie? karya Jostein Gaarder. Novel ini diterbitkan oleh Mizan Bandung tahun 2008.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis dengan menggunakan pendekatan secara filosofis. Karena metode ini mengkaji tentang hakikat filsafat dan sastra. Metode ini sesuai untuk diterapkan dalam penelitian filsafat. Data penelitian berupa deskripsi eksistensi relasional dalam Novel ?Dunia Sophie? karya Jostein Gaarder.
Eksistensi Relasional dalam novel Dunia Sophie karya Jostein Gaarder dapat diketahui kebenarannya dengan pola pemikiran secara filosofis. Ditemukan dari beberapa filosof berikut: Para Filosof Alam, Democritus, Takdir, Socrates, Plato, Aristoteles, Renaisans, Descartes, Hume, Kant, Marx, Darwin, dan Freud. Beberapa pendapat filosof tersebut menjelaskan tentang realitas-realitas yang darinya dapat saling berhubungan dan menerapkan prinsip kausalitas.
Prinsip kausalitas merupakan fondasi yang di atasnya seluruh usaha pembuktian dalam semua ranah pemikiran manusia bersandar. Ini karena pembuktian dengan bukti bagi sesuatu yang tertentu berarti bahwa jika bukti itu masuk akal, maka adalah sebab pengetahuan sesuatu yaitu objek pembuktian. Ketika kita membuktikan sesuatu kebenaran tertentu dengan eksperimen ilmiah atau dengan hukum filsafat atau persepsi indra sederhana. Kita hanya berusaha agar bukti tersebut menjadi sebab pengetahuan kebenaran itu.
Prinsip keniscayaan juga menegaskan bahwa setiap sebab niscaya menghasilkan akibat alaminya, dan bahwa tidak mungkin akibat terpisah dari sebabnya. Prinsip ini berpangkal pada prinsip kausalitas.
Sama halnya dengan prinsip kenicayaan, prinsip keselarasan juga berpangkal pada prinsip kausalitas. Dan juga merupakan hasil dari prinsip kausalitas itu sendiri. Hukum harmoni atau prinsip keselarasan menegaskan bahwa setiap kelompok yang secara esensial selaras harus pula selaras dalam sebab dan akibat (nya).
Ketiga prinsip atau hukum yang menjadi sandaran sains di atas mengatur eksistensi relasional yang realitasnya mengekspresikan keterkaitan dan hubungan.
No other version available