Skripsi Ilmu Perikanan
ANALISIS MITOS DAN NILAI KULTUR DALAM NOVEL AROK DEDES KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
ABSTRAKSI
Agustina Lia,2015 : Analisis Mitos, dan Nilai Kultur dalam Novel Arok Dedes Karya Pramoedya Ananta Toer.
Pembimbing : Drs. Sarujin,M. Si.
Kata Kunci : Analisis Mitos, dan Nilai Kultur Arok Dedes.
Seperti yang diketahui bahwa masyaraakat jawa merupakan masyarakat yang mempunyai banyak kebudayaan yang terkait pada adat istiadat. Kebudayaan tersebut telah diwariskan oleh nenek moyang masyarakat jawa masyarakat jawa dari generasi ke generasi, dari zaman terdahulu hingga detik ini. Termasuk salah satu kebudayaan yang masih ada hingga saat ini adalah kepercayaan terhadap adat istiadat atau kebudayaan yang berhubungan dengan hal-hal yang dianggap ghaib. Namun, sejalan dengan perkembangan zaman seperti saat ini banyak sekali kebudayaan-kebudayaan asing yang masuk dalam kehidupan masyarakat jawa, sehingga berbagai macam kebudayaan asing tersebut menyebabkan budaya asli masyarakat jawa mulai terkikis sedikit demi sedikit. Sebahgai masyarakat yang masih teguh memegang adat istiadat atau kebudayaan warisan leluhur berusaha untuk menurunkan kebudayaan tersebut kepada anak cucunya hingga saat ini. Salah satu usaha untuk mempertahankan warisan leluhur tersebut adalah dengan menyampaikan cerita-cerita leluhuran kepada anak cucunya melalui bahasa lisan (sastra lisan). Bentuk- bentuk kisah dari yang ada dalam Novel ini adalah Legenda Arok Dedes, akan diketahui makna yang tersimpan di dalamnya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif bersifat deskriptif, yang menjadi data dalam penelitian ini adalah kutipan-kutipan. Teknik pengumpulan data sastra lisan ini menggunakan teknik pengamatan, pencatatan. Teknik analisis data dilakukan dengan cara: 1) membaca seluruh cerita dalam novel, 2) menggarisbawahi baris-baris dalam novel, 3) menemukan hubunganatau kata-kata symbol yang berkoresponden, 4) menganalisis bagian-bagian cerita.
Konsep nilai budaya yang digunakan adalah nilai symbol yang dikemukakan oleh Clifford Geertz. Sastra diahirkan sebagai wujud dari hasil pemikiran yang kolektif. Oleh karena itu, terhadap hubungan timbale balikdiantara keduanya. Suatu yang kolektif berusaha menghidupkan suatu karya sastra, sedangkan karya sastra berusaha mempengaruhi kolektif yang melahirkannya. Menurut Geertz, kebudayaan adalah suatu yang semiotic, hal-hal yang berhubungan dengan simbol yang tersedia di depan umum dan di kenal oleh masyarakat yang bersangkutan. Simbol adalah sesuatu yang perlu ditngkap maknanya dan pada giliran berikutnya dibagikan oleh dan kepada masyarakat, diwariskan kepada anak cucu (Geertz,1992:7 ). Geertz berkesimpulan bahwa selama ini simbol yang tersedia dikehidupan umum sebuah masyarakat sesungguhnya menunjukkan bagaimana para warga masyarakat sesungguhnya : meliputi dan merasa berpikir tentang dunia mereka dan bertindak berdasar nilai-nilai yang sesuai.
Sedangkan mitos suatu cerita tradisional mengnai peristiwa ghaib dan kehidupan dewa ? dewa. Istilah ( mytos) berasal dari bahasa latin yang artinaya adalah ?perkataan? atau ?cerita? orang pertama yang memperkenalkan istilah mitos adalah Plato. Plato memakai istilah ?muthologia? yang artinya menceritakan cerita, sedangkan, dalam webster?s Dictinary, perumpamaan atau alegori yang keberadaannya hanya merupakan khayal yang dapat dibuktikan. Mitos termasuk dalam salah satu jenis cerita dongeng. Menurut William A.Haviland adalah cerita yang mengenai peristiwa-peristiwa semihistoris yang menerangkan masalah-masalah akhir kehidupan manusia.
No other version available