Buku PGSD
SIMBOL DAN ALEGORI DALAM NOVEL RARA MENDUT KARYA Y. B. MANGUNWIJAYA (Kajian Studi Budaya)
ABSTRAKSI
Ahmad Suaidi Muharrom, 2008 : Simbol dan Alegori dalam Novel Rara Mendut Karya Y.B. Mangunwijaya (Kajian Studi Budaya)
Pembimbing : Drs. Suhariyadi, M.Pd.
Kata Kunci : Perempuan, Budaya, dan Semiotik
Skripsi ini berjudul ?Simbol dan alegori dalam Novel Rara mendut Karya Y.B. Mangunwijaya Kajian Studi Budaya?. Permasalahan dalam skripsi ini adalah Bagaimana citra perempuan dalam novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya? Bagaimana perbandingan antara citra perempuan tokoh-tokoh wanita dalam novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya dengan citra perempuan jawa? Bagaimana dan apa maksud dari simbol-simbol atau tanda-tanda yang ada dalam novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya khususnya dalam tradisi atau budaya jawa. Serta alegori dari Novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya? Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam skripsi ini adalah Mendeskripsikan citra perempuan dalam novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya, Mendeskripsikan perbandingan antara citra perempuan tokoh-tokoh wanita dalam novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya dengan citra perempuan jawa, dan Mendeskripsikan maksud dari simbol-simbol atau tanda-tanda yang ada dalam novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya khususnya dalam tradisi atau budaya jawa. Serta alegori dari Novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya.Penelitian skripsi ini menggunakan metode heuristik dan hermeneutika, dengan teori semiotik.
Hasil penelitian pada novel tersebut ditemukan bahwa dalam masyarakat Jawa terdapat budaya-budaya jawa yang disisipkan pengarang dalam novel Rara Mendut antara lain; adanya gamelan, tembang, upacara adat (setonan), mantra, hukum kerajaan Jawa, pesan dan pandangan hidup orang Jawa, keraton, keris, mahkota, tradisi poligami yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, geoko tular, guyonan-guyona jawa, kemben sebagai pakaian wanita jawa. Berkaitan dengan citra perempuan dalam novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya ini Tokoh Rara Mendut mempunyai citra perempuan yang cerdas, cantik, memiliki sifat kelembutan, lincah dan pemberani sehingga disamakan dengan tokoh pewayangan yaitu Srikandi, disamakan pula dengan putri duyung kareana Rara Mendut berasal dari Telukcikal, dikatakan gadis pantai, dan perempuan pemberontak karena tidak mematuhi hukum kerajaan. Dalam citra perempuan jawa, perempuan jawa digambarkan sebagai perempuan yang lemah, secara kodrat tercipta dari lelaki, perempuan jawa harus tunduk kepada lelaki, perempuan jawa hanya berada di dapur saja, perempuan jawa pandai berhiasa, macak, masak dan manak.
Jika dibandingkan citra perempuan antara tokoh dalam novel Rara Mendut dengan citra perempuan jawa, memang berbeda. Dalam masyarakat jawa, masyarakat memandang bahwa citra perempuan jawa adalah seprang perempuan yang harus bisa macak, masak, dan manak. Perempuan jawa harus tunduk dan patuh terhadap lelaki, terhadap penguasa. Sedangkan dalam novel Rara Mendut, pengarangnya (Y.B. Mangunwijaya) menggambarkan citra perempuan itu tidak harus selalu tunduk terhadap lelaki dan penguasa, perempuan tidak bersatus atau pekerjaannya hanya macak, masak, dan manak. Perempuan punya kebebasan, dan dalam novel ini Rara Mendut seorang gadis pantai yang dulunya ikut pamannya sebagai nelayan, sementara Genduk Duku adalah perempuan yang pandai memacu kuda atau naik kuda.
Dalam Novel Rara Mendut pengarang yakni Y.B. Mangunwijaya dengan cirri khasnya demi menciptakan sebuah novel sejarah, sehingga dalam penulisan Novel Rara Mendut ini banyak sisipan-sisipan atau penggambaran budaya jawa diantaranya selain novel ini berlatarkan di keraton, juga menyisipkan sastra-sastra lisan jawa seperti tembang asmaradhana, wijil, tokoh-tokoh pewayangan, bahasa-bahasa daerah terutama bahasa jawa. Sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan seorang pengarang hendak mencerminkan sebuah alegori sosok Srikandi dalam diri perempuan.
Secara esensial bahwa perempuan selalu dipandang dalam segi bentuk fisiknya yaitu bentuk tubuhnya. Sejak lahir perempuan terbentuk sebagai perempuan yang selalu menjadi daya tarik, karena kecantikan, perangai, dan lekuk tubuhnya. Setiap perempuan mempunyai sifat kelembutan, kasih sayang, ingin selalu dipuji, ingin selalu diperhatikan, menyukai keindahan. Perempuan akan menyadari kecantikannya sebagai potensi komersial.
Dalam benak Romo Mangun atau Y.B. Mangunwijaya hendak menggambarkan bahwa perempuan itu bukanlah kaum yang paling lemah, perempuan tidak harus tunduk pada adat atau tradisi yang mengharuskan setiap perempuan harus menjadi wanita yang hanya macak, masak, dan manak. Romo Mangun juga menyisipkan bahwa perempuan bukanlah manusia yang hanya dipandang, dinikmati atau digunakan fisiknya belaka, perempuan bukan harus tunduk dan patuh terhadap penguasa, perempuan yang harus melawan hegemoni kekuasaan, mempertentangkan hukum kerajaan. Perempuan tidak harus selalu macak, masak, dan manak.
Tokoh Rara Mendut dalam Novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Rara Mendut, perempuan yang disamakan dengan Srikandi.
2. Rara Mendut, perempuan yang cantik.
3. Rara Mendut, perempuan yang punya kelembutan dan kasih sayang.
4. Rara Mendut, perempuan yang cerdas.
Dalam cuplikan serat piwulang yang disebutkan dalam buku ?Seksologi Perempuan Jawa? citra perempuan jawa yaitu perempuan adalah makhluk yang lemah, perempuan selalu ingin mendapat perlindungan, perempuan diciptakan dari tubuh lelaki, perempuan diciptakan untuk berbakti kepada lelaki, perempuan adalah kanca wingking, perempuan mempunyai peran macak atau pandai berhias, perempuan mempunyai peran manak atau beranak, perempuan mempunyai peran masak atau pandai memasak.
Dibandingkan dengan citra perempuan jawa memang ada perbedaan yang sangat menonjol. Jika citra perempuan jawa adalah perempuan yang diharapkan bisa macak, masak, dan manak. Dalam citra Rara Mendut dia bukan perempuan yang pandai memasak, pandai berhias atau masak. Akan tetapi Rara Mendut adalah perempuan yang mendobrak citra perempuan yang lemah, dalam budaya citra perempuan jawa seorang perempuan harus selalu bergantung pada lelaki, perempuan yang harus mengalah, menyerah dan pasrah terhadap lelaki terlebih kepada Raja seperti gadis lainnya yang lebih bangga jika dijadikan selir oleh Raja. Justru sebaliknya Rara Mendut harus melawan Raja yang bernama Wiraguna demi mempertahankan cintanya dengan kekasihnya Pranacitra, meski pada akhirnya Rara Mendut dan Pranacitra terbunuh di tangan Wiraguna. Selain itu, demi mempertahankan kehidupannya dia rela melakukan sebuah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh perempuan jawa yaitu merokok.
Dalam novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya ditemukan beberapa budaya yang ada di Jawa antara lain; upacara jumbuh asmara, kemben sebagai pakaian wanita jawa, alat musik budaya jawa (gamelan, seruling, kendang), gepok tular (berita dari mulut ke mulut), atribut pakaian raja (mahkota, jarik, baju rompi), senjata orang jawa (keris), tradisi poligami masyarakat jawa, keraton kerajaan, pesan atau pegangan hidup orang jawa, putri boyongan, mantra-mantra, kabar angin kencang, ungkapan-ungkapan jawa, tari tradisional jawa (tari jathilan dan tari kuda lumping), upacara masyarakat jawa (upacara setonan), tembang jawa (Tembang Mijil, asmaradhana, pocung, nyanyian jawa atau lawakan dan lagu atau syair jawa (cublak-cublak suweng).
No copy data
No other version available