Skripsi Ilmu Perikanan
Analisis Nilai Kebudayaan Dan Teknologi Dalam Novel ?99 Cahaya Di Langit Eropa? Karya Hanum Salsabiela Rais Sebagai Materi Pembelajaran Di Sma
ABSTRAKSI
Siti Mukoddasah : Nilai Kebudayaan dan Teknologi dalam Novel 99 Cahaya di Langgit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais sebagai Materi Pembelajaran Sastra di SMA.
Pembimbing : Drs. I Wayan Letreng, M.Pd
Kata Kunci : Nilai Kebudayaan, Nilai Teknologi, Materi Pembelajaran Sastra di SMA.
Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, serta kemampuan dan kebiyasaan lainya yang diperoleh manusia sebagai bagian dari anggota masyarakat E. B. Taylor, dalam (Rusmin Tumangor, Kholis Ridho dan H. Nur Rohim, 2010:19).
Kebudayaan berasal dari bahasa (sansekerta) buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata ?buddhi? yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal. Adapun istilah cultur yang merupakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan berasal dari kata latin colere. Artinya mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau bertani. Dari asal arti tersebut, yaitu colere kemudian culture, diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam. (Soerjono Soekanto, 2012:150). Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adat-istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang ddapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. E.B. Tylor (dalam Soerjono Soekanto, 2012:150). Dengan kata lain, kebudayaan mencakup semuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normative. Artinya, mencakup segala cara-cara atau pola-pola berfikir, merasakan, dan bertindak
Dengan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan mengunakan dan mengerahkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Didalam kebudayaan tersebut terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat, dan sebagainya. Kesemuanya itu selanjutnya digunakan sebagai kerangka acuan atau blue print oleh seseorang dalam menjawab berbagai masalah yang dihadapinya. Dengan demikian, kebudayaan tampil sebagai pranata yang secara terus menerus dipelihara oleh para pembentuknya dan generasi selanjutnya yang diwarisi kebudayaan tersebut.
Kebudayaan yang demikian selanjutnya dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada tataran empiris atau agama yang tampil dalam bentuk formal yang mengejala di masyarakat. Pengamalan agama yang terdapat di masyarakat tersebut diproses oleh penganutan dari sumber agama, yaitu wahyu melalui penalaran. Kita misalnya membaca kitab fiqih, maka fiqih yang merupakan pelaksanaan dari nasb Alquran maupun hadis sudah melibatkan unsur penalaran dan kemampuan manusia. Dengan demikian, agama menjadi membudaya atau membumi di tengah-tengah masyarakat. Agama yang tampil dalam benruknya yang demikian itu berkaitan dengan kebudayaan yang berkembang di masyarakat tempat agama itu berkembang. Dengan melalui pemahaman terhadap kebudayaan tersebut seseorang akan dapat mengamalkan ajaran agama. H. Abuddin Natta (2004:49-50)
Teknologi merupakan unsur atau subsistem dari kebudayaan dan karenanya segala perubahan yang terjadi atasnya akan mempunyai dampak terhadap unsur-unsur lain Supardi Djoko Damono (1994:42). Teknologi adalah transformasi kebutuhan (perubahan bentuk dari alam), teknologi adalah realitas atau kenyataan yang diperoleh dari dunia ide. Secara konfesional mencakup semua dunia fiksi dan biologis, tetapi secara luas juga mencakup teknologi sosial, terutama teknologi sosial pembangunan (the social technology of development) sehingga teknologi itu adalah metode sistematis untuk mencapai tujuan insani. Adapun teknologi dalam makna subjektif adalah keseluruhan peralatan dan prosedur yang disempurnakan, sampai kenyataan bahwa teknologi adalah segala hal, dan segala hal adalah teknologi. Rusmin Tumanggor, Kholis Ridho dan H.Nurcholis, (2010: 134). Dalam analisis kali ini peneliti menghubungkan nilai kebudayaan dan teknologi dengan karya sastra sehingga bisa diaplikasikan sebagai materi pembelajaran sastra di SMA. Karya imajiner dan estetik. Prosa dalam pengertian kesastraan juga di sebut fiksi (fiction), teks naratif (narrative text) atau wacana naratif (narrative discourse) (dalam pendekatan structural dan semiotik). Istilah fiksi dalam pengertian ini berarti cerita rekaan (di singkat:cerkan) atau cerita khayalan. Hal itu di sebabkan fiksi merupakan karya naratif yang isinya yang tidak menyaran pada kebenaran sejarah, Abrams dalam Nurgiyantoro (2010:2). Pendapat tersebut mengandung implikasi bahwa karya sastra (terutama cerpen,novel dan drama) dapat menjadi potret kehidupan melalui perilaku-perilaku tokoh ceritanya sehingga, bisa diaplikasikan sebagai bahan materi pembelajaran sastra di SMA. Jika kita ingin menghubungkan materi pembelajaran sastra di SMA dengan fiksi naratif, perlu di perhatikan kurikulum yang berlaku disekolah tersebut apakah sesuai dengan metode structural dan kajian teoritis karya sastra dalam novel yang akan dianalisis. Dari uraian yang telah dijabarkan di atas maka penulis mengambil judul ?Analisis Nilai Kebudayaan dan Teknologi Karya Hanum Salsabiela Rais Sebagai materi pembelajaran sastra di SMA?
Pembahasan novel 99 Cahaya Di Langit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais menimbulkan banyak masalah karena terlalu luas nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastranya. Kelulusan makna dan nilai suatu karya sastra bukan hanya terbatas pada nilai budaya, tetapi juga mencakup permasalahan sosial, agama, ekonomi, dan lain sebagainya.
Karena peruntunan suatu karya sastra, maka inilah yang menjadi alasan penulis memilih judul Analisis Nilai Kebudayaan dan Teknologi dalam novel ?99 Cahaya di Langit Eropa? Karya Hanum Salsabiela Rais.Karena dalam novel ini mengambarkan kehidupan masyarakat yang mana yang harus ditiru dan yang harus dijauhi.
Untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan didalam penelitian ini digunakan pendekatan yang telah dipilih dan relevan. Beberapa pendekatan yang dipilih diharapkan dapat menjaring aspek-aspek yang hendak dibahas untuk penelitian Analisis Nilai kebudayaan dan teknologi dalam novel 99 Cahaya di Lanit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais. Metode penelitian ini cara utama yang digunakan peneliti untuk mencapai tujuan menentukan jawaban atas semua permasalahan. Metodologi adalah yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud tertentu. Dalam penelitian ini penulis mengunakan metode strukturalisme dan mengunakan teknik catat. Teknik pustaka teknik yang mengunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data. Dan diperoleh dalam bentuk tulisan yang harus dibaca, disimak, hal-hal yang penting dicatat kemudian disimpulkan dan mempelajari sumber tulisan yang dapat dijadikan sebagai sumber landasan teori dan acuan dalam hubungan dengan objek yang diteliti.
Hasil dari analisis Novel ini menunjukkan bahwa nilai kebudayaan dan teknologi dalam novel ?99 Cahaya di Langit Eropa? karya Hanum Salsabiela Rais. Adalah sebagai berikut: Perilaku Menjadi Agen Muslim yang Teduh Indah dan Damai, Agama (Keyakinan), Pengetahuan, Peraturan, Bahasa dan Komunikasi, Kesenian, Teknologi Transportasi, dan Teknologi Komunikasi. Sedangkan nilai kebudayaan dan teknologi yang bisa diterapkan sebagai materi pembelajaran sastra di SMA adalah sebagai berikut: Perilaku Menjadi Agen Muslim yang Teduh Indah dan Damai, Teknologi Komunikasi.
No other version available