Skripsi Ilmu Perikanan
Analisis Refleksi Idiologi Kaum Terjajah Dan Penjajah Dalam Novel ?Dari Kamp Ke Kamp? Karya Mia Bustam
ABSTRAK
Nisa, Ikrimatun. 2014 : Analisis Refleksi Idiologi Kaum Terjajah Dan Penjajah Dalam Novel ?Dari Kamp Ke Kamp? Karya Mia Bustam
Pebimbing
Kata kunci :
: Drs. H. Moh. Mu?minin, M.Pd
Poskolonialisme, Refleksi Idiologi, Kaum Terjajah Dan Terjajah Dalam Novel ?Dari Kamp Ke Kamp? karya Mia Bustam
Sastra adalah suatu bentuk hasil pekerjaan seni kreatif dalam bentuk bahasa lisan maupun tulisan yang dapat menimbulkan rasa kagum, dan objeknya adalah manusia beserta kehidupanya. Sastra diciptakan melalui pemikiran dan perenungan, sehingga karya sastra mengandung misi yang luas, tidak hanya sebagai alat hiburan, tetapi juga sebagai alat menyampaikan pesan-pesan sekaligus kritikan moral kepada masyarakat dan budaya. Tidak terkecuali penindasan yang mengikat kaum terjajah dalam novel yang berjudul Dari Kamp Ke Kamp Karya Mia Bustam.
Hal ini yang menjadikan rumusan masalah penelitian berspektif perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menguak penindasan yang mengikat kaum terjajah dalam novel Dari Kamp Ke Kamp Karya Mia Bustam.
Salah satu bentuk karya sastra adalahnovel, novel merupakan bentuk karya sastra. Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis sastra adalah; novel cerita/ cerpen (tertulis/lisan), syair, pantun, sandiwara,/ drama, likisan/kaligrafi.
Novel adalah salah satu bentuk dari karya satra. Novel merupakan cerita fiksi dalam bentuk tulisan atau kaata-kata dan mempunyai unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik. Sebuah novel biasanya menceritakan tentangkehidupan manusia dalam berinteraksi dengan lingkunagn dan sesamanya. Dalam sebuah novel, si pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan melalui cerita yang terkandung dalam novel tersebut.
Teori penelitian yang dipaki oleh penulis sesuai dengan tema yang diangkat, penulis memakai teori poskolonialisme. Poskolonialisme umumnya didefinisikan sebagai teori yang lahir sesudah kebanyakan negara-negara terjajah yang memperoleh kemerdekaanya. Oleh karena itu, teori poskolonilisme indonesia melibatkan tiga pengertian. Pertama, abad berakhirnya imperium kolonial di seluruh dunia. Kedua, segala tulisan yang berkaitan dengan pengalaman-pengalaman kolonial sejak abad ke-17 hingga sekarang. Ketiga, segala tulisan yang ada kaitanya dengan paradigma superoritas barat terhadap inferoritas timur, baik sebagai orientalisme maupun imperiakisme dan kolonialisme.
Pengertian pertama memiliki jangkauan paling sempit, poskolonialisme semata-mata sebagai wakil masa poskolonial. Di indonesia mulai perengahan abad ke-20, sejak proklamasi kemerdekaan tahun 1945 hingga sekarang. Pengertian kedua lebih luas, meliputi semua tulisan sejak kedatangan bangsa-bagsa barat di imdonesia untuk pertama kali, diawali dengan kedatangan bangsa portugis dan spanyol awal abad ke-16 disusul oleh bangsa belanda awal abadmke-17. Pengertian ketiga paling luas, dimulai sebelum kehadiran bangsa barat secara fisik di indonesia, tetapi telah memiliki citra tertentu terhadapbangsa timur.
Budaya terjajah mendatangkan kerusakan psikologi atas rasisme kolonial. Fanon (Gandhi, 1988: 143) dalam Wretched of the Earth mengemukakan bahwa nasionalisme dalam kapasitasnya untuk menghilangkan luka-luka sejarah yang dibebankan oleh struktur ?manichean? budaya kolonial yang membatasi bangsa terjajah dalam eksitensi manusia yang hampir tidak ada atau terbatas. Penjajahan bukan sekedar eksploitasibentuk-bemtuk material daerah jajahan. Lebih dari itu, kolonial mewariskan penjajahan yang secara kontinu mengekskloitasi perempuan terjajah lebih pada jajahan ideologis. Penjajah menanamkan ideologi superiornya secara terus-menerus. Dalam jangka panjang, oterciptalah pola pikir bahwa perempuan terjajah adalah permpuan yang kelas kedua(Sariban,2009: 240-241).
Hagemoni kolonial terhadap perempuan jajahan mewujudkan ideologi bahwa perempuan terjajah tidak memiliiki kepercayaan diri. Terminologi saling berlawanan, positif negatif, baik-buruk kemudian menjadi cara berfikir perempuan terjajah. Bahwa penjajah adalah orang yang baik, sementara itu terjajah adalah orang buruk. Penjajah adalh kuat dan terjajah adalah lemah. Penjajah adalah kaya dan terjajah adalah miskin.penjajah adalah beradab dan terjajah adalah tak beradab. Penjajah adalah modern dan terjjah adalah tradisional. Penjajah adalah cerdik pandai dan terjajah adalah bodoh. Inilah bentu-bentuk ideologi ketidak percayaan diri yang ditanamkan penjajah terhadap perempuan yang terjajah. Kolonial dengan demikian toidak sekedar hagemoni daerah jajahan, tetapi lebih penjajahan cara berfikir dan ideologi mentalis kontraprofduktif bagi perempuan terjajah (Sariban,2009: 240-241).
Kemerdekaan orang-orang terjajah belum sepenuhnya membebaskan oarang-orang terjajah dari penjajahan kultural hipotesis ini menguatkan fakta bahwa negara-negara bekas jajahan seperti negara-negar di Afrika dan di Asia, termasuk Indonesia Afrika sulit keluar dari ketergantungaataa negara-negara impralis eropa. Eropa sampai kini masih terus menjajah dalam bentuk kultural (Sariban,2009: 240-241).
Terdapat kecendurungan bahwa penjajah menanamkan ideologi melalui budaya perempuan yang terjajah. Ditumbuhkan ideologi bahwa penjajah superrior dan terjajah adalah inferior. Penanaman ideologi penjajah dengan demikian merusak psikologi bagi perempuan.
No other version available