Realia
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENDENGAR DAN BERBICARA MELALUI PERMAINAN BISIK BERANTAI PADA SISWA KELOMPOK B TK DHARMA WANITA GUPOLO BABADAN PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2018/2019
ABSTRAK
Dwi Kurniawati, 2019, MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENDENGAR DAN BERBICARA MELALUI PERMAINAN BISIK BERANTAI PADA SISWA KELOMPOK B TK DHARMA WANITA GUPOLO BABADAN PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2018/2019.
Pembimbing : Anindya Purnama,S.Sos, M.Si
Kata Kunci : Mendengar dan Berbicara, Perrmainan Bisik Berantai
Kemampuan mendengarkan dan berbicara harus dilatihkan kepada siswa dalam pembelajaran meskipun masih dalam bentuk sederhana yang disesuaikan dengan jenjang dan tingkatan serta kondisi siswa. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti mengadakan penelitian mengenai penerapan permainan bisik berantai dalam mengajar bahasa dengan judul penelitian ? Meningkatkan Kemampuan Mendengarkan dan Berbicara Melalui Permainan Bisik Berantai Pada Siswa Kelompok B TK Dharma Wanita Gupolo Babadan Ponorogo Tahun Pelajaran 2018/2019?.
Tujuan penelitian perbaikan kegiatan pengembangan ini adalah untuk mengetahui peningkatkan kemampuan mendengar dan berbicara melalui permainan bisik berantai pada siswa kelompok B TK Dharma Wanita Gupolo Babadan Ponorogo tahun pelajaran 2018/2019. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas dengan 2 siklus. Subyek penelitian adalah guru dan anak kelas B TK Dharma Wanita Gupolo Babadan Ponorogo dengan jumlah siswa 12 anak. Metode pengumpulan data menggunakan observasi. Teknik analisis data yang digunakan secara deskriptif kuantitatif dimana tingkat indikator keberhasilan 75%.
Lembar observasi APKG 2 dilakukan oleh Supervisor 2 dan teman sejawat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan permainan bisik berantai pada kelompok B TK Dharma Wanita Gupolo Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mendengarkan dan berbicara. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar anak pada siklus I yaitu 58,3 % anak mendapat nilai Baik, sehingga belum memenuhi standar ketuntasan minimal. Kemudian setelah diadakan perbaikan pada siklus II anak yang mendapat nilai baik meningkat menjadi 91,6 %.
No other version available