Realia
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBAHASA LISAN DENGAN BONEKA TANGAN PADA ANAK KELOMPOK B TK MUSLIMAT NU KLANGON DESA WOTSOGO KECAMATAN JATIROGO KABUPATEN TUBAN TAHUN AJARAN 2017/2018
ABSTRAK
Solekah. 2018 : Peningkatan Kemampuan Berbahasa Lisan Dengan Boneka tangan Pada Anak Kelompok B TK Muslimat NU Klangon Desa Wotsogo Kecamatan Jatirogo Kabupaten Tuban Tahun Ajaran 2017/2018.
Pembimbing : Ifa Aristia Sandra Ekayati, S.Pd., M.Pd
Kata kunci : Kemampuan Berbahasa Lisan, boneka tangan
Permasalahan yang terjadi adalah anak-anak jika diminta untuk bercerita atau berbicara biasanya mereka hanya berbicara ala kadarnya. Anak-anak hanya berbicara jika ditanya. Selain itu, permasalahan lain yang terjadi adalah anak-anak kesulitan dalam merangkaikan kata demi kata menjadi sebuah kalimat yang lengkap. Hal ini disebabkan karena kurangnya motivasi kepada anak dalam aspek perkembangan bahasa. Media dan metode yang diterapkan oleh guru harus sesuai dengan karekter dari anak, agar perkembangan bahasa lebih optimal. Melalui bercerita, dapat membantu mereka dalam mengembangkan dan melatih kemampuan bahasa yang anak-anak miliki.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana peningkatan kemampuan berbahasa lisan dengan boneka tangan pada anak Kelompok B TK Muslimat NU Klangon Desa Wotsogo Kecamatan Jatirogo Kabupaten Tuban Tahun Ajaran 2017/2018? 2) Apakah melalui boneka tangan dapat meningkatkan kemampuan berbahasa lisan pada anak Kelompok B TK Muslimat NU Klangon Desa Wotsogo Kecamatan Jatirogo Kabupaten Tuban Tahun Ajaran 2017/2018? Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan II sikus. Objek penelitian adalah Kelompok B TK Muslimat NU Klangon Desa Wotsogo Kecamatan Jatirogo Kabupaten Tuban sebanyak 15 anak. Instrumen pengumpulan data observasi dan dokumentasi. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklusnya terdapat tahapan-tahapan yang diterapkan dalam pembelajaran, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Analisis skor ketuntasan individu yaitu 65% dan untuk skor ketuntasan kelas adalah 85%.
Metode cerita dengan boneka tangan dapat meningkatkan kemampuan berbahasa lisan, dimana diketahui nilai persentase anak pada pra siklus, siswa yang tuntas belajar hanya sebanyak 33% dari jumlah total keseluruhan anak yaitu 15 anak. Untuk tindakan pada siklus I, anak yang tuntas dalam belajar adalah sebanyak 67% dari jumlah keseluruhan 15 anak. Sedangkan pada siklus II terdapat 1 anak yang belum tuntas belajar, jika dipersentasekan adalah sebesar 7%, sehingga yang tuntas pada siklus II adalah sebanyak 14 anak dengan persentase 93%. Meskipun ada anak yang belum tuntas, namun tindakan ini tidak perlu dilanjutkan kembali karena sudah melebihi ketuntapsan kelas yaitu 85%.
No other version available