Realia
Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Kegiatan Bermain Bisik Berantai Pada Anak Kelompok B KB Kasih Bunda Desa Biting Kecamatan Sambong Kabupaten Blora Tahun pelajaran 2016/2017. Program Studi Pendidigan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. FKIP Universitas PGRI Ronggolawe Tuban.
Berbicara adalah suatu kemampuan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, yang hanya didahului oleh ketrampilan menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar di pelajari. Pembelajaran berbicara pada anak PAUD sangat penting, karena pada masa ini adalah usia yang sangat peka untuk memberikan rangsangan-rangsangan dan merupakan tantangan untuk peningkatan kompetensi berbicara mereka. Anak diharapkan dapat menyerap aspek-aspek dasar ketrampilan berbicara untuk menjadi bekal kejenjang yang lebih tinggi atau memiliki ketrampilan berbicara unggul. Selain itu anak diharapkan memiliki softkill yang bermanfaat dalam berkarya. Karena kenyataannya tidak semua siswa yang berani dan mau berbicara didepan teman-temannya, sebab mereka umumnya kurang trampil sebagai akibat dari kurangnya latihan berbicara. untuk itu guru merasa perlu melatih siswa untuk berbicara.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana kemampuan berbicara pada anak kelompok B KB Kasih Bunda Desa Biting Kecamatan Sambong Kabupaten Blora Tahun pelajaran 2016/2017, 2) Bagaimana peningkatan kemampuan berbicara melalui kegiatan bermain bisik berantai pada anak kelompok B KB Kasih Bunda Desa Biting Kecamatan Sambong Kabupaten Blora Tahun pelajaran 2016/2017. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan II sikus. Subyek penelitian adalah kelompok B KB Kasih Bunda Desa Biting Kecamatan Sambong Kabupaten Blora, sebanyak 14 siswa. Instrumen pengumpulan data observasi dan dokumentasi. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklusnya terdapat tahapan-tahapan yang diterapkan dalam pembelajaran, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
Berdasarkan hasil analisis data penelitian dapat disimpulkan bahwa pada ketuntasan individu pada pra siklus terdapat 6 siswa yang tuntas dari jumlah keseluruhan 14 siswa. Sedangkan untuk siklus I diperoleh ketuntasan individu sebanyak 9 anak dan untuk siklus II hanya ada 1 anak yang belum tuntas dari jumlah keseluruhan 14 anak. Untuk ketuntasan kelas pada pra siklus dari 6 siswa dapat dipersentasekan yaitu sebesar 43%. Untuk siklus I dapat diperoleh hasil persentase sebesar 64%. Sedangkan untuk siklus II diperoleh persentase sebesar 93%.
No other version available