Realia
Peningkatan Kemampuan Berbahasa Lisan Melalui Metode Cerita Bergambar Pada Anak kelompok A TK Kuntum Mekar Nglanjuk Kecamatan Cepu Kabupaten Blora tahun ajaran 2016/2017. Program Studi Pendidigan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. FKIP Universitas PGRI Ronggolawe Tuban
Masa perkembangan bicara dan bahasa yang paling intensif pada manusia terletak pada 3 (tiga) tahun pertama dari hidupnya, yakni satu periode dimana otak manusia berkembang dalam proses mencapai kematangan. Kemampuan bicara dan berbahasa pada manusia ini akan berkembang dengan baik dalam suasana yang dipenuhi suara dan gambar, serta secara terus menerus berhubungan dengan bahasa dan pembicaraan dari manusia. Dalam masa ini perkembangan otak bayi dan anak sedang mengalami kemampuan maksimal dalam menyerap bahasa. Kemampuan seorang anak dalam mempelajari bahasa akan lebih sulit dan mungkin kurang efesiensi dan efektif, jika masa kritis ini dibiarkan lewat begitu saja tanpa memperkenalkannya pada bahasa
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana peningkatan kemampuan berbahasa lisan melalui metode cerita bergambar pada anak kelompok A TK Kuntum Mekar Nglanjuk Kecamatan Cepu Kabupaten Blora tahun ajaran 2016/2017, 2) Apakah media gambar dalam metode bercerita dapat meningkatkan kemampuan berbahasa lisan pada anak kelompok A TK Kuntum Mekar Nglanjuk Kecamatan Cepu Kabupaten Blora tahun ajaran 2016/2017. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan II sikus. Subyek penelitian adalah kelompok A TK Kuntum Mekar Nglanjuk Kecamatan Cepu Kabupaten Blora, sebanyak 15 siswa. Instrumen pengumpulan data observasi dan dokumentasi. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklusnya terdapat tahapan-tahapan yang diterapkan dalam pembelajaran, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
Berdasarkan hasil analisis data penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil nilai persentase anak pada pra siklus, siswa yang tuntas belajar hanya sebanyak 33% dari jumlah total keseluruhan anak yaitu 15 anak. Untuk tindakan pada siklus I, anak yang tuntas dalam belajar adalah sebanyak 67% dari jumlah keseluruhan 15 anak. Sedangkan pada siklus II terdapat 1 anak yang belum tuntas belajar, jika dipersentasekan adalah sebesar 7%, sehingga yang tuntas pada siklus II adalah sebanyak 14 anak dengan persentase 93%. Meskipun ada anak yang belum tuntas, namun tindakan ini tidak perlu dilanjutkan kembali karena sudah melebihi ketuntasan kelas yaitu 85%.
No other version available