Realia
Meningkatkan Kemampuan Berbicara dengan Metode Bercakap-cakap di TK Aisyiyah 4 Temulus, Randublatung, Blora. Program Studi Pendidigan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. FKIP Universitas PGRI Ronggolawe Tuban.
Pada anak kelompok A di TK Aisyiyah 4 Temulus, Randublatung, Blora, penulis menemukan beberapa anak kurang mampu dalam berbicara. Hal ini disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan atau kemampuan anak berbicara kurang. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kesadaran dari orang tua bahwa kemampuan berbicara sangat penting diperhatikan pada anak usia dini karena ketika anak telah mampu dalam berbicara maka anak tersebut telah mengawali kemampuan dalam berkomunikasi. Penyebab yang lain adalah karena kurangnya perhatian dari guru di sekolah khususnya perhatian tentang kemampuan berbicara anak. Guru seolah-olah hanya menilai secara akademis dan guru tidak pernah mengevaluasi proses pembelajaran yang ada di sekolah sehingga kemampuan anak secara verbal tidak diperhatikan secara maksimal. Pengaruh lingkungan bermain juga memegang peran penting dalam perkembangan anak. Anak akan mudah sekali mengikuti gaya bicara, bahasa dan kosa kata-kosa kata dari orang-orang di sekitarnya.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah metode bercakap-cakap dapat meningkatkan kemampuan anak berbicara pada kelompok A TK Aisyiyah 4 Temulus, Randublatung, Blora Tahun Ajaran 2016/2017. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan II sikus. Subyek penelitian adalah pada kelompok A TK Aisyiyah 4 Temulus, Randublatung, Blora, sebanyak 20 siswa. Instrumen pengumpulan data observasi dan dokumentasi. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklusnya terdapat tahapan-tahapan yang diterapkan dalam pembelajaran, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
Kemampuan berbicara pada kelompok A TK Aisyiyah 4 Temulus, Randublatung, Blora mengalami peningkatan. Dari rekapitulasi pengamatan hasil belajar pada pra siklus, siswa yang tuntas belajar hanya sebanyak 40% dari jumlah total keseluruhan anak yaitu 20 anak. Untuk tindakan pada siklus I, anak yang tuntas dalam belajar adalah sebanyak 65% dari jumlah keseluruhan 20 anak. Sedangkan pada siklus II terdapat 2 anak yang belum tuntas belajar, jika dipersentasekan adalah sebesar 10%, sehingga yang tuntas pada siklus II adalah sebanyak 18 anak dengan persentase 90%.
No other version available